Selasa, Agustus 28, 2012

Menyoal Sampah

Makin lama tinggal di Jakarta, kok makin membuat gw ga betah ya tinggal di kota ini. Mulai dari polusinya, macetnya, dan segala macam tetek bengek yang ada di kota ini membuat gw makin ingin segera hengkang dari sini. Kalau saja bukan karena calon istri tinggal di Jakarta, sudah dari kapan, entah gw meninggalkan kota ini.

Salah satu alasan yang membuat gw eneg sama kota ini adalah SAMPAH. Ya, sampah berserakan di mana-mana di kota ini. Awalnya gw sangat terganggu melihat begitu banyaknya sampah yang bertaburan di pinggir-pinggir jalan, di pekarangan rumah orang, bahkan sampai di objek-objek wisata yang ada di Jakarta pun penuh oleh sampah.

Sebulan dua bulan tinggal di Jakarta memang sampah-sampah itu sangatlah mengganggu. Polusi mata, kata gw. Tapi herannya, lama kelamaan kok gw jadi ikut-ikutan cuek terhadap salah satu masalah utama kota ini. Untungnya gw tersadar, bahwa cuek terhadap lingkungan bukanlah hal yang baik.

Coba dilihat gambar di atas, itu Monas lho, Monumen Nasional! Dan kotornya minta ampun. Hampir setiap gw main ke Monas, taman-taman Monas yang indah itu selalu dipenuhi dengan sampah. Ada sampah plastik, ada botol air mineral plastik, bahkan bungkus nasi. Bah! Apa sih susahnya buang sampah pada tempatnya?! Di Monas itu banyak lho tempat sampah yang sudah disediakan oleh pengelola yang dalam hal ini pemerintah. Ini malah gw lihat tempat sampahnya kosong! Pengunjung-pengunjung biadab itu malah membuang sampah-sampah itu seenak udelnya.

Kalau memang malas jalan ke kotak sampah, bisa kan membungkus bungkus-bungkus bekas itu, lalu sembari jalan pulang, masukkan ke kotak sampah yang ada! Masa begitu saja susah?! Come on!!

Well, akhirnya gw cuma bisa melakukan hal-hal di atas terhadap diri gw sendiri. At least, gw enggak seperti mereka yang gw omongin di sini..



Jumat, Agustus 10, 2012

Sedikit Tentang Kantor Baru..

Enggak tahu berapa kali gw ngomong kayak gini, di blog ini, tapi gw ingin rasanya menulis lagi. "Curhat" melalui tuts keyboard yang gw tekan satu per satu ini, untuk merangkai sebuah kalimat. Tapi kenapa rasanya susah sekali! Terlebih ketika pekerjaan yang terus datang bertubi-tubi, atau pun sekedar kemalasan yang membuat kelu jari ini.

'Nuff said!! Segala sesuatu yang baik, haruslah dimulai detik ini juga. Well, let's start with something simple. Kehidupan kita ini, meski banyak yang bilang itu-itu aja, membosankan, tapi kalau kita mau berpikir out of the box, pasti banyak hal yang bisa kita ceritakan.

Contohnya, kegiatan gw sehari-hari. Kerja, kerja, dan kerja. Memang sih, dibandingin "sebelumnya", kerja di perusahaan game online, tempat gw kerja sekarang sangatlah nyaman terasa. Tak kan ada bau keringat, karena gw bekerja di dalam ruangan, di bawah blower AC central, yang gw yakin suhunya tak lebih dari 16 derajat celcius. Kenyamanan lainnya adalah, komputer kerja gw selalu terkoneksi dengan internet. Jadi, kalau tak ada orderan untuk bikin berita, kerjaan gw hanyalah browsing, main game online, browsing, main game online, browsing, dan main game online.

Heaven? Yup, that's what i think, at least for now. Dengan gaji yang lebih besar dari pekerjaan-pekerjaan yang pernah gw lakoni sebelumnya, seharusnya tempat kerja ini membuat gw sangat betah. Gw katakan lagi, ya! Untuk sementara, tempat kerja dan lingkungan kerja yang seperti ini akan membuat gw bertahan lebih lama dibandingkan dengan tempat kerja sebelumnya. Yah, mudah-mudahan begitu.

Hal yang tidak mengenakkan mengenai suatu kantor memang akan selalu menyertai, di mana pun tempat kerja kita. Tapi menurut gw, hal-hal tersebut masih belum sebanding dengan kenyamanan yang gw terima, dan membuat gw mengeluh dan mengeluh dari hari ke harinya menjalani kerja di kantor ini.

Well, finger crossed, semangat Dias Marendra!!

Kamis, Juli 21, 2011

Sekilas tentang kota Blitar

Blitar, kota yang identik dengan sang proklamator negeri ini memang banyak kita kenal dari buku-buku sejarah sewaktu kita SD dulu. Namun tak banyak yang tahu di mana letak sebenarnya kota Blitar itu, sebelahnya kota apa, dan bisa dicapai berapa lama dari kota asal gw yakni Lampung.

Ketika pertama kali bis gw beranjak dari pool Puspa Jaya di jalan Bypass Bandar Lampung, banyak sekali keraguan, kebimbangan, serta tak luput rasa sedih, seiring menatap wajah-wajah yang selama ini selalu tampak di depan mata namun beberapa menit kemudian tak kan terlihat lagi dalam waktu yang cukup lama. Ya, wajah-wajah yang begitu gw kasihi, Mama, Papa, dan keponakanku yang tersayang Nayla. Tak terasa air mata ini mengalir saat senyum mereka tak lagi menghiasi indahnya hari gw.

Mungkin pada saat ini udah ada yang mulai bertaya, "loh, ngapain Yas jauh-jauh ke Blitar?" Jadi begini, gw menempuh jarak ribuan kilometer, yang harus ditempuh dalam waktu kurang lebih 36 jam untuk sampai di kota ini dengan tujuan memenuhi tugas training dari kantor baru gw.

Okeh, singkat kata, gw sampai di Blitar pukul setengah dua pagi. Kesan pertama yang gw dapet tentang kota Bung Karno ini adalah dingin udaranya di kala malam lain dari kota lainnya. Angin yang berhembus kala itu sampai mampu menembus jaket gw yang tebal, dan sanggup membuat badan gw menggigil kedinginan. Ditambah lagi, temen gw yang menjemput gw malam itu di terminal dengan motor melajukan motornya sekencang mungkin untuk bisa dengan segera sampai di kantor. Alhasil, dinginnya udara Blitar rasanya sampai ke tulang sumsum, membuat gw yang biasanya tidur diterpa kipas angin, malah berselimut karena kedinginan ketika merebahkan diri untuk beristirahat dari perjalanan panjang.

Keesokan harinya, ketika matahari mulai tinggi, udara di kota ini ternyata tak jauh berbeda dengan di Lampung. Panas. Meski sengatan matahari tak seterik di Lampung, namun tetap saja membuat udaranya terasa panas hingga membuat gw kegerahan. Hari pertama di Kantor Cabang Blitar gw habiskan hanya di dalam ruangan, menerima pelatihan ini dan itu.

Hari kedua sedikit berbeda. Memang masih ada training yang harus gw pelajari, namun ketika makan siang, ada teman kantor yang mengajak untuk membeli makan siang di luar. Tentu saja tawaran itu enggak gw tolak. Akhirnya untuk pertama kalinya gw bisa melihat dengan jelas seperti apa Kota Blitar itu.

Kesan kedua yang gw dapat dari Kota Blitar ini adalah kota yang penuh dengan ketenangan. Tak banyak kendaraan yang ada di kota ini. Jadinya jalanan tak begitu padat dan tak ada kemacetan. Selain itu, layaknya kota-kota di Pulau Jawa, Blitar ini memiliki alun-alun di depan pusat pemerintahannya, yakni kantor walikota.

Blitar merupakan kota yang sungguh teratur dan tertib. Mungkin karena kota ini adalah kota wisata, siapapun yang ingin melihat tempat peristirahatan terakhir presiden RI pertama, haruslah datang ke Blitar. Namun, buat orang yang baru pertama kali datang di kota ini, mungkin akan dibingungkan dengan banyaknya jalan satu arah di sini. Lain dengan Bandar Lampung yang hanya mempunyai dua jalan satu arah, di Blitar, meski jalannya lebar-lebar dan tak banyak kendaraan yang ada di sini, tetap memiliki empat hingga lima jalan satu arah di pusat kotanya.

Di hari kedua ini gw mulai merasa dan membatin "kayaknya gw bakal kerasan tinggal di sini.." Hehe. Selain karena kotanya yang unik, teratur dan aman (ya aman, kalau kamu markir motor di depan rumah dan lupa mengunci stangnya sekalipun, ga akan hilang itu motor di sini), penduduknya pun sopan-sopan. Jauh dengan perkiraan gw yang mana gw pikir orang Jawa Timur itu bahasanya kasar-kasar, Blitar ini tutur bahasa orangnya halus-halus seperti di Jogja atau Solo. Hmm, tipikal kota yang bakal gw pilih untuk menghabiskan sisa umur gw nanti.

Hmm, mungkin sementara itu dulu cerita gw di Blitar ini. Lain kali akan gw sambung lagi dengan cerita-cerita menarik lainnya seperti kulinernya yang unik, serta kebiasaan masyarakatnya yang sungguh luar biasa, juga dengan foto-fotonya. Hehe

Cya guys.. ^_^

Minggu, Januari 30, 2011

Surat untuk seorang gadis...

Teruntuk kamu, yang pernah hinggap di hatiku..

Perjumpaan kita waktu itu, sungguh tak bisa dihapuskan dari ingatanku. Mungkin kamu tak pernah tahu kapan waktu yang sungguh berkesan bagiku itu. Waktu itu kamu sedang duduk sendiri di depan gedung kampus kita. Angin kemarau yang sejuk itu berhembus di wajahmu, membelai manja rambut panjangmu yang indah itu. Aku yang waktu itu sedang asyik berbincang dengan temanku, terkesiap melihat betapa indahnya dirimu yang sedang menyisir rambut lurus itu dengan jari lentikmu..

Aku sudah tak perduli lagi dengan temanku pada waktu itu. Fokus perhatianku cuma satu. Kamu. Kamu yang sedang duduk dua meter di depanku. Kamu dengan segenap keindahanmu. Kamu yang tak sadar, betapa aku telah jatuh hati akan cara dudukmu, berdirimu, berjalanmu, semuanya tentangmu..

Setelah itu, aku bak diradang demam setiap harinya, siang ataupun malam. Aku haus akan hadirmu. Aku dahaga akan indahnya wajahmu. Aku rindu akan lembutnya lakumu. Aku mulai bertanya-tanya. Inikah cinta? Inikah yang diidam-idam oleh setiap manusia di dunia ini? Namun, kenapa cinta ini terasa begitu sepi? Kenapa cuma aku yang merasakan hal ini?

Sama seperti kebanyakan orang, rasa ingin memiliki itu pun datang. Rasa yang begitu menggebu. Yang membuat jantungku seperti hendak loncat dari dadaku setiap aku melihat wajahmu. Begitu inginnya aku agar kau tahu, bahwa aku punya sejuta rasa cinta terhadapmu. Aku ingin membuatmu bahagia, karena kau telah membuatku bahagia, di setiap hadirmu di depan mataku.

Namun, kebahagiaan itu pun akhirnya lenyap dengan seketika. Saat aku tahu bahwa kamu sudah ada yang punya. Seketika itu pun semua berubah. Angan indah itu pun musnah. Harapanku untuk bisa bahagia denganmu pun punah. Rasa cinta pun akhirnya berujung pada pasrah..

Namun, satu hal yang masih kuniatkan di hatiku. Aku ingin kamu tahu, bahwa aku pernah memiliki rasa itu. Rasa yang kini sedang kubunuh pelan-pelan. Agar kemudian tak menjadi obsesi yang tanpa arah.

Akhirnya kunyatakan juga rasa itu kepadamu. Meski cuma lewat sebaris teks di pesan singkat. Biar. Biar saja dunia menganggapku pengecut atau apa. Karena cuma itu yang bisa kulakukan. Karena memang, aku tak berani menatap wajahmu ketika mengatakan tiga kata itu, "aku cinta padamu"...

Rabu, Januari 12, 2011

Surat Untuk Seorang Adik...

Tuk adikku tercinta Nadia Arissanti Wardhani..

Membaca kondisi mu yang sekarang, terus terang saja, mas mu ini bingung harus berkata apa. Mau marah, salah, tapi mau didiemin juga tambah salah. Kamu, yang orangnya ga bisa dikonfrontir, membuat mas mu ini terpaksa menempuh jalan lain untuk mengingatkanmu, dengan tulisan ini. Bukan berarti karena dirimu telah berbuat salah, bukan, cuma mas mu berpikir, langkah yang kamu lakukan sekarang rasanya kurang elok dilihat.

Dari dulu mas mu ini sudah sering mendengar tentang perjalanan cinta mu. Berliku memang, tapi kok kesannya itu-itu saja ya? Kalau enggak sama si A, ya pasti sama si B. Dan yang bikin mas mu ini sering mengangkat alisnya karena keheranan adalah transisi perpindahan hati mu dari A ke B itu sungguh sangat dekat waktunya. Kalau bisa dibilang dalam hitungan hari.

Sampai-sampai mas mu ini hapal, "ooh, udah putus ya sama si A, yah, paling dua tiga hari ini udah jalan sama si B," begitu terus. Membuatmu seperti mudah ditebak pikirannya, tapi membuat mas mu ini bingung, apa sih sebenarnya yang ada di dalam hati mu itu? Kok cepat sekali kamu berpindah hati? Siapa yang sebenarnya ada di dalam hatimu? Mungkinkah keduanya? Sehingga kamu bisa dengan mudah membolak-balik hatimu. Habis side a tinggal putar kasetnya pindah ke side b.

Dari dulu juga masalahnya selalu sama. Si A yang terlalu posesif lah, sehingga sering menyakiti hatimu dan membuatmu menangis karena genggaman tangannya yang terlalu kencang di pergelangan tanganmu. Lalu kamu pindah ke si B. Si B juga bukannya bersih dari masalah. Kadang kamu mengeluh kalau dia terlalu cuek lah, enggak bisa dibilangin lah, dan sejuta masalah lainnya yang ada di keduanya.

Tapi kamu selalu saja kembali ke mereka berdua. Kalau lagi enggak sama si A, pasti sedang sama si B. Too predictable. Sebagai saudara, mas mu ini justru merasa kalau kamu yang sedang dipermainkan hatinya oleh mereka. Kamu yang sedang diombang-ambingkan perasaannya di antara kedua pilihan itu. Atau ini cuma perasaan mas mu saja? Atau apa? Ah, kamu juga tak pernah jujur sama mas mu ini apa yang sebenarnya ada di dalam hatimu.

Kembali lagi mas tanyakan kepada kamu, apakah sesulit itu menghadapi dunia dalam kesendirian? Apakah harus selalu ada seorang yang menemanimu untuk menghadapi tantangan hidup mu yang sedang kamu jalani? Bukan berarti mas mu ini meminta dirimu untuk meniruku dan menjadi orang yang terlalu pemilih terhadap lawan jenis, bukan. Mas mu ini hanya menginginkan untuk kamu berpikir sejenak, apakah ada di antara si A dan si B yang kamu nilai paling baik dan layak untuk dijadikan pendamping hidup?

Mas mu ini cuma ingin kamu untuk menyingkir dulu sebentar. Lihat keduanya dari sisi netral. Karena yang kamu lakukan selama ini tidak demikian. Ketika kamu sesak akan segala perhatian dari si A kamu lari ke si B yang kamu nilai bisa memberikan sedikit ruang kebebasan. Namun ketika kamu menjadi kesepian karena si B yang terlalu cuek dan jarang ambil pusing terhadapmu, kamu kembali ke si A yang menjanjikan segala perhatian.

Coba sejenak kamu berdiri di antara mereka berdua. Bukan di salah satunya. Lihat, pilah pilih, pertimbangkan. Mana sisi positif dan negatif dari kedua belah pihak. Mana yang bisa kamu terima, mana yang "terlalu" bagimu.

Mas mu ini bukan melarangmu untuk menjalin hubungan dengan si A atau si B, bukan. Mas mu ini cuma menginginkan sebuah kepastian dalam hidupmu. Sebuah keajegan, ketetapan hati. Mas mu ini benar-benar mengidam-idamkan kamu berkata "kenalin Mas Dias, ini lelaki pilihan hatiku, selamanya aku akan setia kepadanya, hingga nyawa ku ditarik dari ubun-ubunku dan tertinggal jasadku di dalam barzah, hanya dialah satu-satunya yang kucinta."

Ah, sungguh indahnya kalau kata-kata itu terdengar dari bibir manismu, terlontar tulus dari dalam hatimu yang lugu. Bukan tak mungkin mas mu ini akan menangis, karena bahagia akan kebahagiaanmu. Itulah yang sebenarnya mas mu inginkan darimu. Kebahagiaanmu, bukan lainnya, tidak.

Maka, kumohonkan kepadamu. Tetapkan lah hatimu. Pilihlah yang terbaik di antara mereka berdua. Kalau pun tak mungkin, dunia ini sungguh sangat luas adikku. Masih banyak pilihan lain untuk kau jalani di dalam hidup ini. Seperti kata temanku, "you always had a choice." Kamu selalu punya pilihan dalam hidup. Dan pilihan hidup ini bukan hanya ke kiri atau ke kanan.

Kamu harus banyak-banyak lagi melihat dunia adikku. Dunia bukan hanya kiri dan kanan. Masih ada atas, bawah, menengok ke belakang, atau menatap lurus ke depan. Kamu hanya perlu untuk mengumpulkan keberanian untuk itu. Berpetualang. Ya. Jadilah petualang cinta.

Bukan berarti mas mu ini menginginkan kamu untuk mengobral hatimu kepada siapa saja. Oh oh, tidak. Mas mu ini hanya menginginkan kamu untuk melihat dunia. Betapa banyaknya pilihan yang ada di sana. Kenali lebih banyak orang. Jalin pertemanan lebih banyak lagi. Kenali orang lebih luas lagi. Jangan pilih-pilih, bertemanlah dengan siapa saja. Mulai dari anak pejabat, hingga anak seorang pemulung.

Mas mu ini berharap kamu akan menjadi bijak dengan itu. Bisa lebih dewasa untuk mengambil pilihan. Lebih cakap untuk mengambil sebuah keputusan. Memikirkannya terlebih dahulu masak-masak apa positif dan negatifnya sebelum memutuskan sesuatu.

Yah, hanya itu saja yang bisa mas sampaikan. Maaf kalau terlalu panjang. Maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan, bahkan mungkin menyakiti hatimu. Kembali lagi, mas mu ini hanya menginginkan yang terbaik untukmu.

Dengan penuh rasa cinta, dari Mas mu...




Dias Marendra

Sekilas soal The Bee Gees

Belakangan ini gw lagi suka sekali mendengarkan lagu-lagunya The Bee Gees. Bukan karena gw baru suka sekarang. Sebenarnya gw sudah suka dari lama grup yang diisi tiga bersaudara Gibb itu. Cuma ada beberapa lagu-lagu mereka yang gw nilai benar-benar patut untuk diapresiasi.

Seperti misalnya Too Much Heaven, Alone, atau How Can You Mend a Broken Heart. Ketiga lagu itu sekarang selalu gw putar ketika sampai di rumah. Badan yang capek jadi benar-benar rileks mendengarkan tiga lagu itu.

Alasan lainnya, ya karena lagu-lagu mereka benar-benar menggambarkan apa yang gw rasain sekarang. Betapa sakitnya patah hati, atau indahnya jatuh cinta, atau kesendirian yang gw rasain sekarang.

"I could never see tomorrow, no one said a word about the sorrow," dari How Can You Mend a Broken Heart. Sepotong lirik itu gw rasa benar-benar menghujam hati ini. Lagu itu mengisahkan betapa rapuhnya seorang manusia ketika dalam kondisi patah hati.

Belum lagi ketiga bersaudara Gibb itu membawakan lagu mereka dengan penuh penjiwaan, penuh penghayatan, membuat siapapun yang mendengar lagu mereka bisa merasakan kepedihan, cinta, atau bahkan kesendirian dari bait lagu yang mereka lantunkan. Sungguh indah. Sungguh tak tergantikan. Tidak akan ada lagi sebuah band yang mampu membuat lagu seperti mereka dan menyanyikannya sebaik yang mereka lakukan.

I love u The Bee Gees.. ^_^

Selasa, Januari 11, 2011

What The Hell...?

Ternyata sistem pemerintahan kita ini ga semuanya diisi sama orang pinter yaa. Ini buktinya :

Minggu lalu gw liputan ke gedung dewan. Di salah satu ruang komisi gw mendengar para anggota DPRD itu sedang asik melakukan perbincangan. Namun kedatangan kami, para wartawan, mengalihkan perhatian mereka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami..

Setelah selesai mereka dimintai pendapat, mereka pun mulai melanjutkan perbincangan mereka. Rupanya salah satu diantara mereka adalah penggemar klub sepakbola Barcelona.

Salah satu dari kami bertanya, "wah, rupanya abang ini penggemar barcelona juga yaa?". Ia pun menjawab, "iya, saya suka sekali permainan cantik mereka."

Yang enggak gw sangka-sangka, tiba-tiba ada salah satu di antara mereka yang nyeletuk, "Barcelona itu dimana ya? Inggris bukan?". What the hell???

Okelah kalau misalnya yang digemari itu klub kayak chelsea, atau arsenal yang namanya ga mewakili kota asal mereka, London. Tapi Barcelona, OMG, semua orang kayaknya tau kalau Barcelona itu nama sebuah kota di Spanyol, kok anggota DPRD yang "katanya" pintar ini ga tahu hal sesepele itu..?

Jadi bagaimana negara kita mau maju kalau anggota legislatif kita aja kayak gitu? Gimana enggak mungkin tahun kemarin kalau mereka cuma menelurkan satu perda selama satu tahun? Geez, makin lama gw bekerja sebagai wartawan, makin ga mau gw hidup di negeri ini.. Negeri yang korup, yang bejat, yang miskin, yang makin dibikin miskin sama pemimpin negeri yang bodoh seperti ini..