Rabu, Januari 12, 2011

Sekilas soal The Bee Gees

Belakangan ini gw lagi suka sekali mendengarkan lagu-lagunya The Bee Gees. Bukan karena gw baru suka sekarang. Sebenarnya gw sudah suka dari lama grup yang diisi tiga bersaudara Gibb itu. Cuma ada beberapa lagu-lagu mereka yang gw nilai benar-benar patut untuk diapresiasi.

Seperti misalnya Too Much Heaven, Alone, atau How Can You Mend a Broken Heart. Ketiga lagu itu sekarang selalu gw putar ketika sampai di rumah. Badan yang capek jadi benar-benar rileks mendengarkan tiga lagu itu.

Alasan lainnya, ya karena lagu-lagu mereka benar-benar menggambarkan apa yang gw rasain sekarang. Betapa sakitnya patah hati, atau indahnya jatuh cinta, atau kesendirian yang gw rasain sekarang.

"I could never see tomorrow, no one said a word about the sorrow," dari How Can You Mend a Broken Heart. Sepotong lirik itu gw rasa benar-benar menghujam hati ini. Lagu itu mengisahkan betapa rapuhnya seorang manusia ketika dalam kondisi patah hati.

Belum lagi ketiga bersaudara Gibb itu membawakan lagu mereka dengan penuh penjiwaan, penuh penghayatan, membuat siapapun yang mendengar lagu mereka bisa merasakan kepedihan, cinta, atau bahkan kesendirian dari bait lagu yang mereka lantunkan. Sungguh indah. Sungguh tak tergantikan. Tidak akan ada lagi sebuah band yang mampu membuat lagu seperti mereka dan menyanyikannya sebaik yang mereka lakukan.

I love u The Bee Gees.. ^_^

Selasa, Januari 11, 2011

What The Hell...?

Ternyata sistem pemerintahan kita ini ga semuanya diisi sama orang pinter yaa. Ini buktinya :

Minggu lalu gw liputan ke gedung dewan. Di salah satu ruang komisi gw mendengar para anggota DPRD itu sedang asik melakukan perbincangan. Namun kedatangan kami, para wartawan, mengalihkan perhatian mereka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami..

Setelah selesai mereka dimintai pendapat, mereka pun mulai melanjutkan perbincangan mereka. Rupanya salah satu diantara mereka adalah penggemar klub sepakbola Barcelona.

Salah satu dari kami bertanya, "wah, rupanya abang ini penggemar barcelona juga yaa?". Ia pun menjawab, "iya, saya suka sekali permainan cantik mereka."

Yang enggak gw sangka-sangka, tiba-tiba ada salah satu di antara mereka yang nyeletuk, "Barcelona itu dimana ya? Inggris bukan?". What the hell???

Okelah kalau misalnya yang digemari itu klub kayak chelsea, atau arsenal yang namanya ga mewakili kota asal mereka, London. Tapi Barcelona, OMG, semua orang kayaknya tau kalau Barcelona itu nama sebuah kota di Spanyol, kok anggota DPRD yang "katanya" pintar ini ga tahu hal sesepele itu..?

Jadi bagaimana negara kita mau maju kalau anggota legislatif kita aja kayak gitu? Gimana enggak mungkin tahun kemarin kalau mereka cuma menelurkan satu perda selama satu tahun? Geez, makin lama gw bekerja sebagai wartawan, makin ga mau gw hidup di negeri ini.. Negeri yang korup, yang bejat, yang miskin, yang makin dibikin miskin sama pemimpin negeri yang bodoh seperti ini..

Minggu, Januari 02, 2011

I Hate Mondays


I really start to hate mondays recently. What about u?
Here's some tips to make your monday a better day :

Sabtu, Januari 01, 2011

Kata-kata itu..

"I love you"

Kata-kata itu memang sering terdengar di telinga gw.. Kebanyakan sih dari dialog para aktor dan aktris di televisi. Tak ada yang spesial ketika gw mendengar kata itu dari mereka.
Kemarin gw sempat iseng-iseng.. Mencoba untuk melafalkan kata-kata itu, yang sudah lama sekali tak terucap oleh bibir ini.. Meski tak ada seorang pujaan hati di depan gw yang dimana sedang gw beranikan untuk mengucapkan kata-kata itu kepadanya. Tidak, hanya kepada udara kosong saja. Kepada angin malam yang sedang lewat..

"I love you"..

Kata itu keluar dari mulut gw. Tapi anehnya, kok hati ini seperti bergetar yaa? Ada apa gerangan. Punya istri tidak, apalagi pacar. Tapi kok bisa membuat jantung gw menjadi berdebar-debar. Apa karena sudah terlalu lama gw tidak memiliki rasa itu? Atau apa?

Ah, aneh ya gw ini.. Tapi gw berharap semoga angin bisa membawa kata-kata itu ke telinga pujaan hati gw, entah siapa dia, atau pun di mana dia.. Mudah-mudahan kita bisa bertemu sebentar lagi..

Aminn ^_^

Kamis, Desember 30, 2010

Teladan dari Sang Veteran

18 April 1976. Udara di Pelabuhan Panjang tengah malam itu sungguh dingin terasa. Namun sekelompok pemuda yang berada di pinggiran dek pelabuhan itu, seperti tak terpengaruh dengan angin yang menusuk. Mereka tetap berdiri dengan tegap menunggu kapal yang akan mengangkut mereka berangkat menunaikan tugas. Mereka adalah sukarelawan dari Batalion 143 yang mendapat tugas untuk mengikuti Operasi Seroja.

Tak lama, sebuah kapal datang. Kata Wakolo tertulis besar-besar di lambung kapal itu. Kapal dagang sederhana itulah yang akan mengangkut mereka untuk menjalankan tugas negara. Berdiri di depan di antara kumpulan pemuda itu, Kapten M. Joesoef S memimpin kompi A. Setelah semua anggota batalion naik, kapal pun bertolak dari dermaga, menuju ke Timor Timur.

Lima hari mereka terombang-ambing ombak. Lima hari mereka menunggu dan membayangkan seperti apa kondisi medan perang yang akan mereka hadapi. Akhirnya, hari keenam, Kapal Wakolo merapat di sebuah pelabuhan di Kota Dili. Setelah turun dari kapal, Kapten Joesoef menerima pengarahan dari pimpinannya dan mendapat perintah: Kompi A harus mempertahankan Kota Dili Sektor Timur. Dengan penuh semangat, Kapten Joesoef pun memerintahkan anak buahnya untuk berangkat ke daerah tujuan. Demi mengamankan daerah tersebut, sekaligus menggantikan Kopassus yang sebelumnya berjaga di sana.

Kenangan Operasi Seroja

Setelah berhasil mengamankan Kota Dili, ia ditugaskan untuk membuka Rute Perbekalan Umum (RPU) dari Simpang Relako hingga Simpang Tukululi, Ermera. Mulanya Kompi A memiliki waktu selama lima hari untuk membuka rute tersebut. Namun tugas itu selesai dalam waktu satu hari. Setelah terbukanya rute itu, ia kembali mendapat tugas untuk membebaskan daerah lain. Kota Turiscai namanya.

Tugas-tugas yang dijalani oleh Joesoef muda beserta anggota Kompi A pada waktu itu bukanlah perkara mudah. Memasuki dan merebut kota-kota itu dari tangan musuh, adalah tugas penuh resiko dan ancaman. Pertempuran demi pertempuran ia lewati. Hujan peluru sudah seperti sarapan pagi. Datangnya pasti dan menjadi rutinitas sehari-hari.

Di antara pertempuran-pertempuran itu, yang paling berkesan di hati Joesoef adalah pertempuran merebut dan mempertahankan kota Aituto. “Saya ingat, pertempuran di kota itu memakan waktu hingga dua hari,” kenangnya. Setelah Kompi A berhasil merebut Kota Aituto, terhitung ada dua lagi pertempuran yang memakan waktu hingga seharian penuh di kota itu. “Hari pertama dimulai dari jam setengah lima subuh. Pertempuran baru mereda sekitar jam setengah lima sore. Begitupun hari keduanya, dimulai dari jam setengah lima subuh. Namun pada hari kedua berakhir pukul setengah satu,” jelas Joesoef. Tidak terasa hampir sepuluh bulan sejak mereka menjejakkan kaki di Bumi Loro Sae. Setelah pertempuran demi pertempuran mereka lalui, tiba saatnya mengakhiri tugas di daerah yang kala itu masih menjadi provinsi ke 27 Republik Indonesia. Mereka pun dipulangkan pada bulan Januari 1977. Kembali ke Provinsi Lampung.

Demikian Joesoef menceritakan jalannya peperangan dan tugas yang ia emban selama di Timor Timur dengan detil yang sungguh mengagumkan. Di usianya yang sudah 71 tahun, tak secuilpun ingatan akan perang lepas dari benaknya. Mulai dari tanggal, nama kota, nama tempat, hingga jam dan menitnya pun masih terekam dengan jelas. Selain itu, seragam musuh dengan topi lebar dan hiasan sebuah bulu di topi, serta senjatanya yang berkilauan pun masih terbayang dengan tegas di matanya. Dengan gaya penuturan yang khas dan detil seperti itu, sayang rasanya jika tidak mendengarkan ceritanya hingga tuntas.

“Mungkin semua ini bisa dibilang kuasa Tuhan, sehingga kami bisa selamat dan keluar dari semua pertempuran yang kami lalui,” katanya. Dari kisahnya, ternyata tak seorangpun dari anggota Kompi A yang gugur, meski ada beberapa yang terluka. Rasa takut akan kematian pun seperti tak ada. “Kami semua sudah mengerti akan konsekuensinya. Jadi, semua itu kami jalani dengan penuh tanggung jawab, sehingga rasa takut pun hilang.”

Lepasnya Timor Timur

Namun sungguh sayang, perjuangannya membela Timor Timur dengan darah dan airmata itu seperti sia-sia belaka. Pada tahun 1999, di era pemerintahan Presiden B.J. Habibie, Timor Timur memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan membentuk negara sendiri bernama Timor Leste. Para pejuang pembela, termasuk Joesoef sangat menyayangkan hal itu.

“Kami tak menyalahkan Bapak Habibie. Namun kami sangat menyayangkan kenapa hal itu bisa sampai terjadi,” katanya. Ia mengatakan, tak sedikit dari pejuang Indonesia yang terjun ke sana kehilangan nyawanya. “Perjuangan para pemuda itu jadi seperti sia-sia,” tuturnya sedih.

Meski usianya telah renta, semangat juang Joesoef tetap membara. Menjalani hari-hari tuanya di gedung veteran di bilangan Enggal, Bandar Lampung, ayah enam orang anak ini masih tetap seorang pejuang. Kini ia dipercaya memimpin organisasi Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Provinsi Lampung. Teman-teman seperjuangannya di Batalion 143, sekarang turut pula menjadi pengurus. Terkadang mereka masih suka bertukar cerita tentang perjuangannya dulu. Baik kepada sesama veteran, maupun siapa aja yang ingin mendengarkan kisah heroik mereka.

Beragam penghargaan pun sudah ia raih sehubungan dengan baktinya kepada negara. Terhitung tiap-tiap operasi yang ia jalankan, ia mendapat penghargaan dari pemerintah. Masa baktinya pun tidak bisa dibilang sebentar. Selama 24 tahun, ia mengabdikan hidupnya untuk membela tanah air. Selain itu, ia pernah pula menjadi pendidik di tubuh TNI. Meski Indonesia telah meraih kemerdekaannya selama 65 tahun, kecintaannya pada republik ini tak pernah lekang direnggut masa.

Pressing F5

Coba-coba lagi untuk posting..
Mulai dari berita yang biasanya gw tulis dulu gpp yaa..?
Hehehe..

Mari, silakan dibaca.. ^_^

Rabu, Mei 05, 2010

Ga Tau Mau Dikasih Judul Apa...

Malam ini adalah malam kita
Malam dimana kita merayakan cinta
Mari kita nikmati bersama
Dengan penuh cinta

Hei, kenapa kau masih malu-malu?
Aku ini kan sudah jadi mahram mu
Maka jangan kau hanya diam di situ
Mari sini ke peraduan denganku

Sekarang ijinkan aku menyentuh mu
Menggenggam tanganmu
Memeluk tubuh indahmu
Dan mencium bibir merahmu...

Sungguh semakin gemas rasanya
Saat melihat wajahmu yang merah merona
Dan kau yang berkata "jangan diliatin terus donk..." dengan malunya
Ketika tak ada lagi penghalang untuk melihat dirimu apa adanya

Oh, memang benar apa kata mereka
Semua wanita di dunia itu indah tanpa cela diciptakan oleh-Nya
Tapi kuyakin kaulah diantara mereka yang paling sempurna
Karena kaulah satu-satunya yang kucinta

Kembali lagi kumohon ijinmu
Untuk mereguk kenikmatan indahnya surga dunia itu
Sekarang juga bersama-sama denganmu
Untuk hilangkan haus yang sudah kupendam ini sedari dulu

Oh, rupanya seperti inilah indahnya surga dunia
Kita menyatu dalam dansa
Tarian yang nikmat tak terperi rasanya
Peluh yang bercucuran dan waktu yang terlewati sudah tak dapat lagi kita rasa

Sungguh indahnya ini pengalaman pertama
Terlebih lagi karena aku melewatinya denganmu cinta
Seseorang yang akan menemaniku selamanya
Dalam ikatan sumpah janji untuk susah senang hingga akhir masa

NB : Kayaknya sudah "waktunya" bagi gw, wakakakak